MENJAGA NYALA YANG SUDAH ADA

Oleh: H. Arief Kusuma

Refleksi Sunyi dari Ruang Kelas: Ketika Guru Belajar Mendengar

Di tengah hiruk-pikuk reformasi pendidikan, kurikulum yang silih berganti, serta jargon-jargon besar tentang “pembentukan karakter”, ada satu ironi yang jarang diangkat ke permukaan: suara siswa seringkali hilang, teredam, atau sekadar menjadi gema di lorong yang sepi. Kita berbicara panjang lebar tentang budi pekerti, tetapi dalam praktik, ruang dialog justru menyempit.

Pembinaan terasa seperti mekanisme koreksi satu arah—tanpa percakapan, tanpa empati, tanpa jeda untuk benar-benar mendengar.

Di sinilah sebuah kisah sederhana dari seorang guru, Agus Prihadiartanto—yang akrab disapa Pak Pri—menjadi relevan, bahkan mendesak untuk direnungkan.

Kisah itu tidak dimulai dari sebuah prestasi gemilang atau inovasi spektakuler. Ia berawal dari sesuatu yang nyaris terlewatkan: sebuah surat dari seorang siswa. Surat yang, pada awalnya, bahkan hampir tidak dibaca. Namun beberapa hari kemudian, siswa itu datang, dengan suara pelan dan sikap penuh kehati-hatian, bertanya, “Pak Pri, punya sedikit waktu untuk saya?”

Sebuah pertanyaan sederhana. Namun di baliknya, tersimpan keberanian, kerendahan hati, dan—yang paling penting—budi pekerti yang selama ini sering kita definisikan secara teoritis, tetapi jarang kita saksikan secara nyata.

Bagi Pak Pri, momen itu menjadi titik balik. Ia menyadari bahwa esensi pendidikan bukanlah sekadar mentransfer pengetahuan atau menegakkan disiplin, melainkan membuka ruang bagi manusia untuk didengar. Ia melihat bahwa budi pekerti bukanlah hasil ceramah panjang, melainkan tercermin dalam tindakan kecil: meminta izin sebelum berbicara, menyampaikan isi hati dengan hormat, dan berani hadir sebagai diri sendiri.

Sejak saat itu, Pak Pri melakukan perubahan kecil yang berdampak besar. Ia meluangkan lima menit pertama di setiap kelas untuk satu hal: pertanyaan jujur. Bukan pertanyaan akademik, bukan pula evaluasi formal—melainkan ruang terbuka bagi siswa untuk bersuara.

Lima menit yang, dalam logika manajemen waktu konvensional, mungkin dianggap tidak efisien. Namun dalam realitas pendidikan, justru menjadi investasi yang tak ternilai.

Perlahan, sesuatu mulai berubah. Suara-suara yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul—dari barisan depan, tengah, hingga belakang. Dari siswa yang biasanya hanya hadir secara fisik, mengerjakan tugas, tetapi tidak pernah benar-benar “terlihat”. Kelas tidak lagi sekadar ruang instruksi, melainkan ruang perjumpaan.

Transformasi ini tidak lahir dari teknologi canggih, bukan pula dari kebijakan struktural berskala besar. Ia lahir dari kesadaran seorang guru bahwa mendengar adalah bagian dari mengajar.

Dalam perspektif yang lebih luas, praktik kecil ini menyimpan pelajaran strategis bagi ekosistem pendidikan, termasuk bagi komunitas besar seperti SMA Negeri 6 Jakarta—sebuah institusi yang tidak hanya dikenal karena tradisi akademiknya, tetapi juga karena jaringan alumninya yang kuat dalam wadah Sixerhood.

Bagi para guru, kisah ini mengingatkan bahwa otoritas tidak harus selalu berbentuk kontrol. Ada kekuatan dalam kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak selalu tahu, bahwa kita juga sedang belajar. Pak Pri sendiri menyatakan dengan jujur: ia bukan guru yang sempurna. Namun justru dalam pengakuan itulah, kepercayaan tumbuh.

Bagi para siswa, ini adalah pengingat bahwa suara mereka memiliki nilai. Bahwa keberanian untuk berbicara—dengan cara yang santun dan penuh hormat—adalah bentuk nyata dari karakter yang selama ini diajarkan.

Sementara bagi para alumni, terutama dalam komunitas Sixerhood, refleksi ini membuka ruang untuk melihat kembali makna kontribusi. Pendidikan bukan hanya soal apa yang terjadi di dalam kelas hari ini, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai itu dibawa, diperkuat, dan diwariskan lintas generasi.

Pada akhirnya, inti dari kisah ini terangkum dalam satu kalimat sederhana namun mendalam: tugas seorang guru bukanlah menyalakan api yang tidak ada, melainkan melihat nyala yang sudah ada dan menjaganya.

Dalam dunia yang semakin kompleks—termasuk di sektor pendidikan yang kini bersinggungan dengan transformasi digital, kecerdasan buatan, dan tuntutan global—kita sering terjebak pada pencarian solusi besar. Namun kisah Pak Pri mengingatkan bahwa perubahan sejati seringkali dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

Mendengar. Memberi ruang. Mengakui keberadaan.

Barangkali, di situlah letak masa depan pendidikan yang sesungguhnya.

Bukan pada seberapa keras kita berbicara, tetapi pada seberapa dalam kita mau mendengar.

Referensi:

1.            Narasi dan refleksi pengalaman Agus Prihadiartanto (Guru), 2026.

2.            Konsep pendidikan karakter dalam praktik pembelajaran kontekstual.

3.            Observasi praktik dialogis dalam ruang kelas dan pendekatan student-centered learning.

4.            Diskursus umum tentang peran empati dan komunikasi dalam efektivitas pendidikan modern.

5. https://www.instagram.com/reel/DaXpxpThsf5/?igsh=dTg4Z2EwY2FxMG43