Disusun Oleh: Aki Pinanggih
Surat Al-Nazi’at termasuk diantara Surat Makiyah terdiri atas empat puluh enam ayat diturunkan setelah Surat Al-Naba’. Korelasi dengan surat sebelumnya, di dalam Surat Al-Naba’ terdapat ancaman siksa pada Hari Kiamat sedangkan pada Surat Al-Nazi’at menyebutkan sumpah Allah bahwa hari kebangkitan itu suatu keniscayaan yang tidak diragukan kebenarannya.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا (1) وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا (2)
Terjemahannya: “Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, (1) dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut,” (2).
Maksudnya, Allah Swt. bersumpah dengan malaikat yang mencabut ruh orang-orang kafir dengan suatu pencabutan melewati batas penuh kebengisan dan bersumpah dengan malaikat yang mencabut ruh orang-orang beriman dengan suatu pencabutan yang lemah lembut penuh kemudahan nyawanya lepas dari raga ibarat satu benang dilepaskan dari lubang jarum. Dinukil dari Ali ra. dan Ibnu Abas ra. sesungguhnya malaikat mencabut ruh kaum beriman dengan pelan-pelan dan lemah-lembut, sedangkan di dalam Riwayat Al-Nasa’i disebutkan malaikat kematian mencabut ruh orang kafir sebagaimana ditarik besi yang bercabang kiri dan kanannya dari kain yang membungkusnya.
وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا (3) فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا (4)
Terjemahannya: “dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,”(3) “dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang,”(4).
Maksud ayat ke-3 Allah Swt. bersumpah dengan malaikat yang turun membawa perintah dan wahyu dari langit. Maksud ayat ke-4 menurut Mujahid dan Abu Rauq, Malaikat beriman dan taat mendahului Anak Adam sehingga tidak diragukan mendahului dalam berbagai kebaikan menempati derajat yang sangat agung sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:[1]
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولئِكَ الْمُقَرَّبُونَ
Terjemahannya: “Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman) merekalah yang paling dahulu (masuk Surga), mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah).”
فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا (5) يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ (6) تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ (7)
Terjemahannya: “dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia),” (5). “(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, (6) (tiupan pertama) itu diiringi tiupan kedua.”(7).
Maksud ayat ke-5 Allah bersumpah atas nama malaikat yang mengurus alam raya dengan perintah-Nya, seperti meniupkan angin, menurunkan hujan, menurunkan rezeki, kesejahteraan dan berbagai urusan dunia yang lainnya. Maksud ayat ke-6 dengan tiupan bumi berguncang dan gunung bergetar, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:[2]
يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا (14)
Terjemahannya: “Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung– gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.”
Kemudian disusul dengan langit terbelah sehingga bintang-gemintang jatuh dan berserak-serakan. Al-Razifah adalah tiupan sengkala pertama yang menyebabkan kematian semua makhluk dan disusul dengan tiupan sengkala kedua yang berlangsung untuk membangkitkan kembali dari kematian. Di dalam ayat yang lain dijelaskan:[3]
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّماواتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرى فَإِذا هُمْ قِيامٌ يَنْظُرُونَ
Terjemahannya: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”
Ahmad bin Hanbal dan Al-Tirmidzi telah meriwayatkan suatu hadits yang dinilai shahih oleh Al-Hakim konon Rasulullah saw. apabila melewati sepetiga malam beliau berdiri seraya bersabda: “Wahai Manusia berdzikirkah kepada Allah pasti akan datang hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam. (Tiupan pertama) itu diiringi tiupan kedua. Pasti kematian akan merenggut segala yang ada pada hari tersebut.”
قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ (8) أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ (9) يَقُولُونَ أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ (10) أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً (11) قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ (12) فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ (13) فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ (14)
Terjemahannya: “Hati manusia pada waktu itu sangat takut, (8) Pandangannya tunduk.” (9).(Orang-orang kafir) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”(10) Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” (11) Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”. (12) Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, (13) maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (14).
Maksudnya, hati mereka sangat berguncang ketika menyaksikan ketakutan pada hari kiamat, demikian juga pandangannya tertunduk karena diperlihatkan Neraka. ‘Atha berkata: “Pandangan yang demikian adalah orang yang mati tidak diatas Agama Islam dan penyebutan ini mengisyaratkan pengingkaran terhadap kebangkitan.[4]
يَقُولُونَ أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ (10) أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً (11) قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ (12) فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ (13) فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ (14)
Terjemahannya: “(Orang-orang kafir) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”(10) Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” (11) Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”. (12) Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, (13) maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (14)
Maksudnya, Kaum yang ingkar dan suka memperolok-olokan hari kebangkitan ketika hidup di dunia ini berkata dengan nada bertanya namun mengandung penolakan, “apakah kami akan dikembalikan setelah kematian menjadi hidup kembali seperti semula? Apakah kami akan dibangkitkan setelah menjadi tulang belulang yang usang dan berserakan?” Jika benar ada hari kebangkitan tersebut dan kami dibangkitkan setelah kematian, tentu kami akan menjadi golongan yang merugi karena kami diantara penghuni Neraka!” Allah memberikan jawaban atas penolakan mereka dengan penolakan pula bahwa tidak patut diangggap mustahil hal itu, hanyasaja urusan tersebut mudah bagi-Nya. Urusan membangkitkan kehidupan setelah kematian bukan sesuatu yang sulit bagi-Nya: cukup dengan satu kali tiupan sengkala Israfil, yaitu tiupan kedua untuk membangkitkan manusia dari kuburnya.
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (15) إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (16) اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (17) فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى (18) وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى (19) فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى (20) فَكَذَّبَ وَعَصَى (21) ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى (22) فَحَشَرَ فَنَادَى (23) فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى (24) فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى (25) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى (26)
Terjemahannya: “Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. (15)Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa; (16) “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, (17) dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. (18) Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (19) Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. (20) Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. (21) Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). (22) Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (23) (Seraya) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (24) Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. (25) Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). (26.)
Dalam pandangna Imam Al-Razi yang dinukil oleh Al-Thanthawi[5] ada korelasi kisah berikut dengan rentetan ayat-ayat sebelumnya yaitu Pertama, Allah Ta’ala telah menguraikan keadaan orang-orang kafir yang terus-menerus menetapi keingkaran kepada adanya hari kebangkitan, sampai berhenti pengingkarannya kepada batas memperolok-olokan dalam ucapannya, “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”, keadaan ini membuat “menyesakkan” hati Rasulullah saw. kemudian Allah Swt menerangkan kisah Musa as. dan memberikan penjelasan bahwa Musa as. menanggung kesukaran pula ketika menyeru Firaun ke jalan Allah. Urgensi penyampaian kisah tersebut sebagai penglipur lara bagi Rasulullah saw..
Kedua, bahwa Firaun lebih kuat dari kaum Kafir Quraisy. Ketika ia melakukan pembangkangan kepada Musa as. maka Allah Ta’ala menurunkan siksa terhadapnya di dunia dan di akhirat agar menjadi pelajaran bagi orang yang takut kepada-Nya.
Maksud kalimat bertanya di dalam firman-Nya: “Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa.?” Agar rekanan yang diajak bicara tertarik kepada informasi yang hendak disampaikan dan supaya audiens memiliki perhatian yang seksama terhadap analogi problematika yang dihadapi sehingga lebih banyak menyerap informasi yang akan disimaknya. Imam Al-Maraghi mengomentari, “Tidakkah sampai kepada engkau Muhamad kisah Musa ketika berhadapan dengan Firaun dan kaumnya? Sungguh Allah telah memerintahkan agar ia lemah-lembut dalam bertutur kata dan mengajak kepada kebenaran dengan bantahan yang argumentatif dan menyampaikan sedekat-dekat argumen sebagaimana difirmankan:[6]
فَقُولا لَهُ قَوْلًا لَيِّناً لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشى.
Terjemahannya: “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.
Al-Thabari menghimpun dua pendapat bekenaan tempat Musa menerima wahyu untuk menyeru kepada Firaun menurut satu golongan berlokasi di suatu lembah yang disucikan bernama Thuwa. Sedangkan menurut pendapat yang lain memaknai suatu dataran rendah yang bertepi. Motif yang melandasi penyampaian seruan kepada Firaun karena ia telah berbuat al-tughyan, yaitu segala urusan yang tidak patut ada, apalagi menetap secara permanen. Al-tughyan merupakan urusan yang jelek, perbuatan yang merusak di muka bumi, menyelisihi sesuatu yang dicintai Allah, yang mendorong kepada sesuatu yang dibenci-Nya. Barangsiapa menghalangi tumbuh subur perbuatan tersebut niscaya Allah menjadikan diantara hamba pilihan. Dalam terminologi Imam Al-Thabari[7] al-Tuhgyan adalah angkuh dan melewati batas dalam permusuhan serta berlaku sombong atas Tuhannya. Sedangkan menurut Imam Al-Qasimi[8] menambahkan yang telah disebutkan Imam Al-Thabari, al-thughyan juga berarti memplagiat sifat-sifat kerububiyahan dan menisbatkan sifat tersebut kepada diri sendiri.
Seruan yang disampaikan Musa mengisyaratkan pembebasan dari anasir mengoposisi terhadap kekuasaan Firaun, maksud firman-Nya, “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”, dan kamu akan aku pimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” Dalam pemahaman Al-Lusi[9] ungkapan di dalam ayat ini mendahulukan membersihkan diri dari kesesatan (al-tazkiyat) atas petunjuk (al-hidayat) karena syarat terpenuhi petunjuk itu pembebasan diri dari noda-noda yang mengotori keyakinan (takhliyat). Maknanya, adakah keinginan bagimu kecenderungan agar membersihkan diri dari kekufuran dan kelaliman? Aku hendak memberi petunjuk kepada Tuhanmu dan membimbingmu supaya mengenali-Nya sehingga engkau takut yang direfleksikan menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan segala yang diharamkan. Karena rasa takut itu hanya akan ada setelah mengenali-Nya (al-ma’rifat). Perintah ini merupakan detil dari firman-Nya: “Faqula lahu qaulal layyina”, “Dan katakanlah olehmu berdua suatu perkataan yang lemah-lembut.” [10]
Kemudian Allah menyuruh Musa as. memperlihatkan kemukjizatan sebagai pertanda kerasulan dalam melemahkan musuhnya yaitu tongkat dapat berubah menjadi ular dan tangannya mengeluarkan cahaya berkilauan . Tetapi Firaun tidak mau memenuhi seruan Musa as. walaupun telah dipertunjukkan bukti kemukjizatan yang besar isyarat kebenaran kerasulannya, bahkan Firaun mendustakan secara terang-terangan yang telah disaksikannya dan ia mendurhakai secara tegas perintah Tuhannya. Dikumpulkan para pembesar yang ada dikerajaannya seraya berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.
Maka Allah membinasakan Firaun dengan cara ditenggelamkan sebagai sanksi atas kedurjanaan ketika pongah berlaku tiran di dunia, sedangkan di akhirat Jahannam bagiannya. Kasus yang demikian terdapat pelajaran berharga bagi orang yang takut kepada adzab dan kemurkaan Tuhannya mengisyaratkan penekanan penggunaan nalar agar dijadikan media yang membedakan haq dan bathil.
أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا (29) وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33) فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى (34) يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَى (35)
Terjemahannya: “Apakan penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? (27) Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. (28) Dan Dia menjadikan malamnya (gelap-gulita), dan menjadikan siangnya (terang-benderang). (29) Dan setelah itu bumi Dia hamparkan. (30) Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.(3) Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (32) (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu. (33) Maka apabila malapetaka besar (hari kiamat) telah datang, (34) Yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, (35)
Setelah Allah menjelaskan kisah Musa as. dan Firaun, kemudian Dia memaparkan sanggahan terhadap kaum yang mengingkari hari kebangkitan dalam bentuk analogi kekuasaan memulai penciptaan dan mengembalikan kehidupan diungkapkan dengan kalimat bertanya, “Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya?”Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,” Nada pembicaraan pada ayat ini didatangkan dalam bentuk kalimat bertanya yang berfungsi untuk memberi teguran secara keras dan pencercaan bagi rekanan bicara. Wahbah Zuhaili[11] mengomentari, Apakah penciptaan kalian setelah kematian menurut ukuran kalian lebih sulit ataukah lebih sulit penciptaan langit? Tidak diragukan lagi bahwa langit lebih kompleks penciptaannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:[12]
لَخَلْقُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ
Terjemahannya: “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dan firman Allah Ta’ala:[13]
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ بِقادِرٍ عَلى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ
Terjemahannya: “Dan tidaklah Tuhan yang menciptakanlangit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”
Yang dimaksud “asayddu”, “lebih sulit” di dalam ayat ini dihubungkan kepada keyakinan rekanan yang diajak bicara, bukan dinisbatkan kepada Allah, karena setiap sesuatu yang ada di alam raya ini tunduk kepada kehendak Allah ‘Azza wa Jalla dan kehendak-Nya terhadap sesuatu cukup berfirman, “jadilah”, maka seuatu itupun terjadi tanpa ada yang kuasa menghalangi.
Kemudian Allah Ta’ala memberikan penjelasan cara penciptaan langit, bahwa langit telah dibina dengan cara menghimpun sebagiannya kepada sebagian yang lain, diikat dengan sesuatu yang mengokohkan sehingga menjadi sebuah binaan, ditinggikan ketebalannya di udara seolah bangunan yang menjulang diatas bumi tanpa ada tiang. Allah telah menjadikan langit tinggi binaannya, sempurna penciptaannya, tegak bentuknya, tidak ada perbedaan dan tidak pula bengkok, retak ataupun pecah. Langitpun diperindah penciptaannya dengan bertaburkan bintang yang satu dengan yang lain dalam keteraturan tidak saling bertabrakan. Diantara bintang-bintang itu ada yang menetap pada posisi yang diketahui pada suatu gugusan.
Maksud ayat yang mulia tersebut melecut pengidentifikasian pandangan kepada urusan yang fenomenalogis (al-musyahadah), bahwa penciptaan langit lebih besar dan lebih luar biasa daripada penciptaan mereka. Yang Kuasa menciptakan yang lebih besar dan lebih luar biasa tentu kuasa menciptakan yang lebih mudah sekedar seukuran menghidupkan kembali mereka dari kematian.
Firman-Nya: “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang” maksudnya, Dia telah menjadikan malam gelap gulita meniadakan bintang-bintang dan mendatangkan waktu siang. Diungkapkan waktu siang dengan waktu dhuha karena semulia-mulia dan sebaik-baik waktu dihubungkan dengan kesigapan antusias hidup yang tidak terdapat pada waktu-waktu yang lain.[14] Al-Razi[15] menafsirkan penyebutan waktu dluha bagi siang karena waktu dluha paling sempurna dari bagian siang terang-benderang dan cahayanya.
Firman-Nya: “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.” Ditafsirkan dengan firman-Nya: “Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.”. Di dalam Surat Fushshilat ayat ke-11 menjadi dalil bahwa penciptaan langit terjadi setelah penciptaan bumi:
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ
Terjemahannya: “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.
Sebenarnya bumi lebih dahulu diciptakan daripada langit tanpa bentuk terbentang. kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menyempurnakan penciptaan langit secara bertahap dari berupa asap lalu dibentuk dan dibina sehingga menjadi kokoh walaupun tanpa tiang, setelah itu bumi pun dibentangkan.[16]Sebagian ulama menjadikan dalil dari ayat ke-30 Surat Al-Naziat, penciptaan bumi terjadi setelah penciptaan langit. Sedangkan jumhur memahmi bahwa penciptaan bumi didahulukan atas penciptaan langit berdasarkan dalil:[17]
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ ما فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً، ثُمَّ اسْتَوى إِلَى السَّماءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَماواتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahannya:“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Maksud ayat ke-31 dan 32 , Allah ‘Azza wa Jalla memancarkan mata air dari bumi dan menumbuhkan tetumbuhan yang dimakan manusia dan hewan. Dan Dia mengokohkan gunung-gunung untuk kemanfaatan kalian. Segala yang dikeluarkan bumi merupakan kekuatan dan kenikmatan bagi segala yang ada di bumi dan hewan ternak, seperti rerumputan, pepohonan, biji-bijian, buah-buahan, tanam-tanaman, kayu bakar, pakaian, obat-obatan, tidak terkecuali garam dan api, karena garam dihasilkan dari air sedangkan api dihasilkan dari pepohonan yang telah kering.
Setelah Allah Ta’ala menerangkan penciptaan langit dan bumi dan penciptaan segala yang ada pada keduanya merupakan perkara mengagumkan dari ciptaan-Nya untuk membuktikan kekuasaan-Nya secara logik adanya hari kebangkitan kemudian Dia menginformasikan peristiwa tersebut secara fi’li ( verbal / perbuatan ). Firman-Nya:
فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى (34) يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَى (35) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى (36) فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا (42) فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا (43) إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا (44) إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا (45) كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا (46)
Terjemahannya: “Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.” (34) yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya (35) dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. (36) Maka adapun orang yang melampaui batas, (37) dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, (38) maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya. (39) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (40) maka sungguh syurgalah tempat tinggal(nya). (41) Mereka (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, kapankah terjadinya?(42) Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? (43) Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). (44) Engkau (Muhamad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat) (45) Pada hari mereka melihat hari Kiamat (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.” (46).
Yang dimaksud dengan “ath-thammah al-kubra”, “malapetakan yang sangat besar” pada ayat ke-34 yaitu tiupan sengkala Israfil kedua yang menyertai hari kebangkitan, demikian pendapat Ibnu Abas. Menurut Al-Qasim bin al-Hamdani, “ath-thammah al-kubra” merupakan suatu peristiwa digiring penghuni Surga masuk ke Surga dan Penghuni Neraka digiring masuk ke Neraka. Sufyan Al-Tsauri berpendapat pada hari itu penghuni neraka tunduk kepada Malaikat Zabaniyah.[18]Bencana yang disebutkan dalam ayat ini melebihi semua bencana apapun yang pernah terjadi di dunia ini.[19]
Keadaan yang meliputi hari itu manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya ketika hidup di dunia, mengingat amal-amal yang dilupakannya dan diperlihatkan kepadanya kitab catatan amal, tidak ada amal yang kecil ataupun amal yang besar kecuali diperhitungkan disisi Allah ‘Azza wa Jalla. Firman-Nya:[20]
أَحْصاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ .
Terjemahannya:“Allah mengumpulkan amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya.”
Pengungkapan senada Surat Al-Nazia’at : 35 terdapat dalam Surat Al-Fajr: 23 :
يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى
Terjemahannya: “dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”
Firman-Nya:”Wa burrizatil jahimu limayyaro”, “dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.”. Maksudnya, pada hari itu ditampakkan Neraka Jahanam secara nyata tidak tersembunyi dari seorangpun apakah ia mukmin atau kafir, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman pada ayat yang lain:[21]
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ
Terjemahannya: “dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang- orang yang sesat”
Muqatil mengomentari, disingkapkan misteri yang tersembunyi keadaan Neraka dan diperlihatkan kepada seluruh manusia. Adapun orang yang beriman mengetahui dengan pandangannya seukuran nikmat Allah atasnya menjadi perantara selamat dari neraka. Adapun orang kafir akan semakin bertambah lara dan penyesalan bagi mereka.
Ketahuilah ! sesungguhnya Allah Ta’ala ketika mensifati keadaan Kiamat dalam suatu pengungkapan, Dia mengkategorikan orang yang dibebani tanggung jawab (mukallaf) menjadi dua golongan: Pertama al-asyqiya’ (golongan yang mendapatkan kesengsaraan), kedua al-su’ada’ (golongan yang mendapatkan kebahagiaan). Kemudian Allah menyebutkan golongan yanga beroleh kesengsaraan, firman-Nya:
فَأَمَّا مَنْ طَغى (37) وَآثَرَ الْحَياةَ الدُّنْيا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوى (39)
Terjemahannya:“Adapun orang yang melampaui batas, (37) dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).(39)
Firman-Nya: “thagha”, “melampaui batas” dalam persefsi Al-Razi[22] merupakan isyarat kerusakan kondisi kekuatan pandangan golongan ini, karena setiap orang yang mengenal Allah secara mendalam (ma’rifat) niscaya akan mengetahui betapa kerdil dirinya di hadapan-Nya, dan ia pasti mengetahui betapa tinggi kekuasaan-Nya atas dirinya, dari itu ia tidak akan berbuat melampaui batas dan menyombongkan diri. Adapun firman-Nya: “Wa atsarol hayatid dunya”, “dan lebih mengutamakan kehidupan dunia”, merupakan isyarat kejelekan kondisi kekuatan amaliyah golongan ini. Nabi saw. bersabda:
«حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ»
Terjemahannya: “Cinta dunia itu pokok setiap perdosaan.”
Ketika manusia telah disifati dengan dua sifat tersebut, na’udzubillah, berarti telah mencapai puncak yang klimaks dalam berbuat kerusakan, dan orang kafir tentunya yang patut menerima sanksi kekal sebagai penghuni Neraka Jahim.
Kemudian Allah menerangkan golongan yang akan memperoleh kebahagiaan, firman-Nya:
وَأَمَّا مَنْ خافَ مَقامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوى (41)
Terjemahannya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (40) maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”(41)
Dua karakter yang disebutkan Allah di dalam ayat ke-40 sangat kontradiktif dengan dua karakter penghuni neraka pada ayat ke-37 dan ayat ke-38 sebelumnya. Takut kepada Allah adalah suatu keniscayaan dan adanya didahului karena mengetahui senantiasa dalam pengawasan-Nya, berdasarkan firman-Nya:[23]
إِنَّما يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماءُ
Terjemahannya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”.
Dalam komentar Imam Al-Khazin[24], yaitu orang yang menjauhi perbuatan haram yang disukainya. Dikatakan ada seorang lelaki yang mengangan-angankan berbuat dosa tetapi mengingat kedudukannya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla akan menerima hisaban, kemudian meninggalkan perbuatan dosanya. Menurut versi yang lain, ia takut pada suatu hari ketika berdiri di hadapan Allah ‘Azza dan takut hukum Allah yang terjadi pada hari itu. Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya yaitu menolak memberi ketaatana kepada pemimpin yang menyalahi Allah dan Rasul-Nya.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا (42) فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا (43) إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا (44) إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا (45) كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا (46)
Terjemahannya: “(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad)tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?(42) Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya) (43) Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya ketentuan waktunya). (44) Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit) (45) Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu,mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari (46).
Dari periwayatan yang diterima melalui Ibnu Abas disebutkan kaum musyrik Mekah bertanya kepada Rasulullah saw. kapan terjadi Kiamat dalam keadaan memperolok-olokan, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat ke-42. Dalam pandangan ‘Urwah bin Al-Zubair mengenai firman-Nya: “fima angta ming dzikroha?”, “Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? “ diturunkan karena senantiasa Nabi saw. ditanya mengenai kapan datangnya Kiamat sampai Allah menurunkan ayat, “Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” [25]
Tidak ada seorangpun yang akan mengetahui kapan akan terjadi Kiamat, kecuali Allah. Firman-Nya:[26]
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (187)
Terjemahannya: “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya.Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Firman-Nya:[27]
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ.
Terjemahannya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.”
Dimuthlaqkan penyebutan hari kiamat dengan “sa’at” , “sebentar” , karena terjadi secara seketika, atau karena cepat perhitungan amal yang terjadi di hari itu, atau karena masa panjang yang dilalui manusia. Firman-Nya: “Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?” maksudnya, tidak ada pengetahuan kapan terjadi kiamat kepadamu sehingga engkau memberi peringatan dengannya kepada mereka, karena itu diantara urusan keghaiban hanya monopoli pengetahuan Allah.
Firman-Nya: “Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” maksudnya, dikembalikan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla yang mengetahui waktu penentuannya, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya selain-Nya. Firman-Nya: “Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)”, maksudnya bukan kewajiban engkau, wahai Muhamad! Kecuali memberi peringatan orang yang takut terhadap hari kiamat, bukan memberitahukan kapan waktunya. Dikhususkan memberi peringatan kepada orang yang takut, karena hanya jenis orang ini yang mengambil manfaat dari sebuah peringatan.[28]
Seolah-olah orang kafir Quraisy melihat hari berbangkit, dengan mata kepala sendiri, yaitu pada hari kiamat seakan tidak tinggal di dunia, menurut satu pendapat, seakan tidak tinggal di kuburnya, melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi hari.[29]
[1] Q.S. Al-Qiyamat: 10-11.
[2] Q.S. Al-Muzammil: 14.
[3] Q.S. Al-Zumar:68.
[4] Jamal Al-Din Abu Al-Farj ‘Abd Al-Rahman bin ‘Ali bin Muhamad Al-Jauzi, Zad Al-Masir Fi ‘Ilm Al-Tafsir, Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, Beirut: 1422 H, jld. IV, hlm. 395.
[5] Muhamad Sayid Tahnthawi, Tafsir Al-Wasith, Dar Al-Nahdhat, Kairo: 1998, jld. XV, hlm. 269
[6] Q.S. Thaha: 44.
[7] Muhamad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Al-Amali Abu Ja’far Al-Thabari, Jami’ Al-Bayan Fi Ta’wil Al-Qur’an, Al-Mu’asasat Al-Risalat: 2000, jld. XXIV, hlm. 200 .
[8] Muhamad jamal Al-Din bin Muhamad Sa’id bin Qasim Al-Halaqi Al-Qasimi, Mahasin Al-Ta’wil, Dar Al-Kitab Al-‘Ilmiyat, Beirut: 1418 H, jld. IX, hlm. 399.
[9] Syihab Al-Din Mahmud bin ‘Abd Allah Al-HUsaini Al-Alusi, Ruh Al-Ma’ani Fi Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Dar Al-Fikr: t.t., jld. XVI, hlm. 51.
[10] Nashir Al-Din Abu Sa’id ‘Abd Allah bin ‘Umar bin Muhamad Al-Syairazi Al-Baidhawi, Anwar Al-Tanzil Wa Asrar Al-Ta’wil, Dar Al-Fikr, Beirut: t.t. IV, t.t., hlm. 172.
[11] Wahbat Al-Zuhaili, Al-Tafsir Al-Munir Fi Al-‘Aqidat Wa Al-Syari’at Wa Al-Manhaj, Dar Al-Fikr, Damaskus: 2005, jld. XV, hlm. 411.
[12] Al-Mu’min: 57.
[13] Q.S. Yasin: 81.
[14] Ahmad bin Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Dar Al-Fikr, Beirut: 2001 M, jld. X, hlm. 245.
[15] Abu ‘Abd Allah Muhamad bin ‘Umar bin Al-Husain Al-Taimi Al-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Dar Ihya’ Al-Turats Al-‘Arabi, Beirut: t.t., jld. XXXI, hlm.45.
[16] Muhamad Sayid Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, Dar Al-Nahdhat, Kairo: 1998, jld. XV, hlm. 281.
[17] Q.S. Al-Baqarah: 29.
[18] Abu ‘Abd Allah Muhamad bin Ahmad bin Abi Bakr bin farh Al-Anshari Al-Khajraji Syams Al-Din Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, Dar Al-Kitab Al-Mishriyat, Kairo: 1964, jld. XIX, hlm. 206.
[19] Jabir bin Musa bin ‘Abd Al-Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aisar Al-Tafasir, Maktabat Al-‘Ulum Wa Al-Hikam, Al-Madinah Al-Munawarah, KSA: 2014, jld.V, hlm. 514.
[20] Q.S. Al-Mujadilah: 6.
[21] Q.S. Asy-Syu’ara: 91.
[22] Abu ‘Abd Allah Muhamad bin ‘Umar bin Al-Hasan bin Al-Husain Al-Taimi Al-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Dar Ihya’u Al-Turats Al-‘Arabi, Beirut: 1420 H , jld. XXXI, hlm. 49.
[23] Q.S. Fathir: 28.
[24] ‘Ala’ Al-Din ‘Ali bin Muhamad bin Ibrahim bin ‘Umar Al-Syaihi Abu Al-Hasan Al-Khazin, Lubab Al-Ta’wil Fi Ma’ani Al-Tanzil, Dar Al-Al-Kutub Al-‘Ilmiyat, Beirut: 1415 H, jld. IV, hlm. 393.
[25] Abu ‘Abd Allah Muhamad bin Ahmad bin Abi Bakr bin farh Al-Anshari Al-Khajraji Syams Al-Din Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, Dar Al-Kitab Al-Mishriyat, Kairo: 1964ijld. IXX, hlm. 209.
[26] Q.S. Al-A’raf: 187.
[27] Q.S. Luqman: 34.
[28] Muhamad ‘Ali Ash-Shabuni, Shafwat Al-Tafasir, Dar Al-Fikr, Beirut: 2001 M, jld. III, hlm. 491.
[29] Abu Muhamad Al-Husain bin Mas’ud bin Muhamad bin Al-Fara’ Al-Baghawi, Ma’alim Al-Tanzil Fi Tafsir Al-Qur’an, Dar Ihya’ Al-Turats Al-‘Arabi Beirut: 1420 H, jld. V, hlm. 208.