Surat Al-Infithar termasuk diantara Surat Makiyah, diturunkan setelah Surat An-Nazi’at. Sebagaimana surat sebelumnya ( At-Takwir ) surat ini pun dimulai dengan penyebutan peristiwa-peristiwa kiamat untuk menakut-nakuti.
بسم الله الرحمن الرحيم
إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (1) وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (2) وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3) وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (4) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ (5)
“Apabila langit terbelah, (1) dan apabila bintang jatuh berserakan (2) dan apabila laut dijadaikan meluap, (3) dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, (4) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan apa yang telah dilalaikannya.” (5)
Firman-Nya: “Idzas sama’ung fathorot”, ““Apabila langit terbelah,” ( 1 ) , maksudnya apabila langit terbelah dan berubah keteraturannya. Tidak ada yang tersisa keteraturan gugusan bintang-bintang sebagaimana sekarang terlihat. Pada beberapa ayat disebutkan gambaran kiamat:
وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنْزِيلًا (25)
Terjemahannya: “Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang.” ( Q.S. Al-Furqan: 25 ).
فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ (37)
Terjemahannya: “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” ( Q.S. Ar-Rahman: 37 ).
وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا (19)
Terjemahannya: “dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,” ( Q.S. An-Naba’: 11 ).
Bin Qasim memaknai langit terbelah karena turun para malaikat.
Ayat ke-2 dimaknai berjatuhan dan berserakan bintang-bintang. Kejadian ini merupakan rentetan peristiwa kiamat: Apabila langit terbelah, terlepas susunannya, hilang keteraturannya, maka jatuh berserakan gugusan bintang-bintang. Maksudnya, bintang-bintang yang kecil dan yang besar berserak-serakan, terpecah-belah dan berserakan karena dunia sudah berakhir ( the end ).
Kandungan ayat ke-3 difahami Imam Ath-Thabari ( XXIV, 2000 M : 268 ), diluapkan kandungan air yang tawar ke dalam kandungan air yang asin. Lautan pun menjadi satu ( Zad Al-Masir Fi ‘Ilm Al-Tafsir, IV, 1422 H : 410 ).
Maksud ayat ke-4, dibalikkan tanahnya dan dikeluarkan orang-orang yang telah mati di dalamnya, lalu menjadikan mereka hidup dan berjalan pada hari kiamat.
Firman-Nya:“ma qoddamat wa akhkhorot”, “apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(nya).“ pada ayat ke-5 dimaknai yang telah dikerjakan dari amal kebaikan dan keburukan dan yang dilalaikan dari kebiasaan yang baik atau kejelekan yang dilakukan terus-menerus. Menurut satu pendapat, yang telah digunakan dari harta- benda bagi dirinya dan yang dilalaikan dari harta benda bagi ahli warisnya.( Abu Su’ud, V, t.t. : 842 ) .
يَاأَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (6) الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ (7) فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ (8)
Apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, (6) Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang, (7) dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhnmu. (8)
Yang dimaksud manusia di dalam ayat ke-6 dikhususkan kepada orang kafir. Pendapat yang lain memahami penyebutan manusia berlaku secara umum. Allah memanggil manusia dengan sifat al-insan karena dititipi akal yang berfungsi sebagai daya pembeda daripada makhluk yang lain. Lafazh “ma” pada ayat ini kata yang digunakan buat bertanya bermakna pengingkaran dan keanehan yang disertai pencercaan keadaan manusia yang tertipu ini. Imam Al-Shabuni ( III, 2001 M : 503 ) mengomentari, “apa perkara yang menipumu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Mulia sehingga engkau mendurhakai dan berani menyalahi perintah-Nya, sedangkan pada waktu yang bersamaan Dia berbuat baik dan menaruh iba atas engkau?”
kemurahan Allah dalam kehidupan dunia ini membuat manusia banyak yang terpedaya. Anugerah kenikmmatan-Nya yang melimpah-ruah tidak pandang diberikan kepada orang yang taat ataupun kepada ahli maksiyat. Ada tiga sebab, yang diungkapkan Imam Ar-Razi ( XXXI, 1421 H : 75 ) manusia terpedaya sehingga berbuat kedurhakaan kepada Allah, yaitu: pertama karena bujuk-rayu Setan; kedua, kedunguan dan kebodohan yang memperdayakannya; ketiga, ampunan dari Allah ketika di kali pertama bermaksiyat tidak langsung diberi sanksi. Fudhail bin ‘Iyadh pernah ditanya, “Bilakah engkau berdiri di hadapan Allah pada Hari Kiamat?” sedangkan Dia berfirman kepada Engkau, “Apa yang memperdayakan engkau berbuat durhaka kepada Tuhanmu?” Ia berkata, “Aku katakan: “Kemurahan Engkau telah memperdayaiku!”.
Imam Al-Khazin ( IV, 1415 H: 402 ).memberikan penjelasan ayat ke-7: Yang telah menciptakan Engkau dari tidak ada menjadi ada, lalu menyempurnakan dengan memiliki kelengkapan anggota-anggota tubuh, dapat mendengar dan melihat, kemudian menjadikan harmoni anggota-anggota tubuh itu. Tidak dijadikan sebagian anggota tubuh lebih panjang dari anggota lainnya. Makna ayat ini menurut satu pendapat, Allah telah menjadikan manusia berdiri tegak sebaik-baiknya rupa, tidak seperti binatang berstruktur tubuh melengkung.
Maksud ayat ke-8, Dia telah menyusun engkau dalam rupa yang dikehndaki-Nya dan memuliakan dengan sebaik-baik rupa yang mengagumkan. Tidak menjadikan rupa engkau seperti binatang, sebagaimana di dalam Q.S. At-Tin Ayat ke-4 difirmankan:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4)
Terjemahannya: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .”( 4 ).
Imam Al-‘Utsaimin menafsirkan ayat ke-8, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki berbeda-beda dalam perhitungan tinggi, pendek, cantik, jelek, laki-laki dan perempuan. Di dalam ayat ini terkandung dalil kekuasaan Allah membuat, memilih dan menguasai yang diciptakan.
Kemudian Allah Ta’ala mencerca kaum musyrik atas kedustaan mereka terhadap hari pembalasan seraya berfirman:
كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ (9) وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)
(9) Sesungguhny bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi, (10) yang mulia dan mencatat amal, (11) mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (12)
Firman-Nya: “Kalla”, merupakan ungkapan untuk mencegah dan merintangi mengandung makna “jangan! Sekali-kali tidak!” ( Al-Munawwir, 1997 : 1227 ). Maksudnya, jangan terpedaya dengan kemurahan Allah! Dia telah menjadikan anugerah kesempurnaan penciptaan engkau sebagai media ( dzari’ah ) yang menghantarkan kekufuran dan kedurhakaan, padahal secara bersamaan keadaan anugerah kesempurnaan penciptaan tersebut untuk mendorong bersyukur dan taat kepada-Nya. Menurut satu pendapat lafazh “kalla” berfungsi sebagai penguatan ( taukid ) untuk membenarkan informasi yang datang setelahnya ( Al-Burusawi, X, 2006 M : 416 ). Firman-Nya: “bal tukadzdzibuna bid din”, “bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” Di dalam Tafsir Aisar Tafasir Likalam Al-‘Aliy Al-Kabir, Al-Jaza’iri ( V, 2003 M : 529 ) mengomentari, bukan kemurahan Dia yang memperdayakannya, hanyasaja keberanianya berbuat kedustaan terhadap hari pembalasan, yaitu hari dibangkitkan dalam keadaan hidup manusia dari kuburnya.
Sayyid Thanthawi ( XV, 1998 M : 313) memaknai ayat 10 s.d. ayat 12, sesungguhnya atas kalian ada malaikat di antara sifat-sifatnya menjaga dan mencatat amal perbuatan. Derajat mereka mulia dan di tempat yang baik di sisi Allah Ta’ala. Mereka senantiasa mencatat semua amal kalian. Mereka mengetahui yang diperbuat kalian dari amal yang sedikit, yang banyak, yang kecil atau yang besar. Maksud ayat yang mulia ini memberikan penjelasan bahwa hari kebangkitan itu benar, hari perhitungan itu benar, pembalasan itu benar, semua amal manusia dicatat dalam pencatatan yang sempurna dengan perantara malaikat yang tidak mendurhakai Allah dan senantiasa melaksanakan segala yang diperintahkan kepada mereka. Adapun cara pencatatan amal manusia oleh malaikat, di atas media apa mencatatnya, kapan terjadi segala urusan dicatat, wajib kita mengimani sebagaimana apa adanya keterangan yang menjelaskan disertai menyerahkan hakikat, cara dan kompleksitasnya kepada Allah Ta’ala, karena tidak datang hadits sahih dari orang yang dipelihara dari dosa yaitu Nabi saw. untuk dijadikan dasar pegangan yang menjelaskan secara detil urusan tersebut.
Di dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Swt. menyebutkan nikmat-nikmat yang besar, kewajiban mentaati, merasa diawasi oleh-Nya (muraqabah) dan setiap amal manusia tidak ada yang luput dari perhitungan dan pencatatan, kemudian Dia menyebutkan posisi golongan yang taat dan posisi golongan yang durhaka seraya berfirman:
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (13) وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (14) يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ (15) وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ (16)
“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, (13) dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-bena berada dalam neraka. (14) Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, (15) dan mereka tidak mungkim keluar darinya.” (16)
Komentar ayat 13 s.d ayat 16: Al-abror bentuk jamak dari Barrun yaitu profil manusia bertakwa yang menyempurnakan perjanjian dengan Allah Ta’ala. Sedangkan al-fujjar bentuk jamak dari fajir yaitu profil manusia yang banyak berbuat kedurhakaan, keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Maksudnya , sesungguhnya orang-orang beriman yang tulus yaitu yang menunaikan perjanjian mereka dengan Allah benar- benar ada dalam kenikmatan yang terus-menerus, kesenangan yang kekal. Dan sesungguhnya orang-orang durhaka yaitu orang yang membatalkan perjanjian dengan Allah, menyimpang dari perintan-Nya, benar-benar ada di dalam neraka yang menyala-nyala, sebagian nyalanya di atas sebagian yang lain. Orang-orang yang durhaka ini merupakan orang yang memberontak kepada Allah. Mereka akan masuk ke dalam Neraka Jahim. Tidak mungkin mereka dapat menjauh dari neraka itu. Bahkan mereka menetap secara permanen.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (17) ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (18) يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (19)
“Dan tahukan kamu apakah hari pembalasan itu? (17) Yaitu pada haru ketika seseorang tidak berkuasa sedikit pun menolong orang lain. (18) Dan segala urusan pada hari itu menjadi milik Allah.” (19)
Imam Al-Maraghi ( X, 2001 M : 269 ) mengomentari ayat ke-17 dan ayat ke-18, Sesungguhnya urusan engkau, wahai manusia, benar-benar sangat mengherankan! Engkau lalai terhadap hari ini, tidak mau peduli. Padahal Engkau diciptakan agar mengetahui hakikat keberadaan-Nya.. Engkau mengambil harta-benda buat penjagaan dirimu dan melakukan penghematan bagi urusanmu. Tetapi jangan sekali-kali mengabaikan pemberian maaf Tuhanmu, kemurahan dan ampunan-Nya, karena engkau tidak tahu yang ditaqdirkan bagimu!
Kemudian, sangat mengherankan darimu mengentengkan informasi mengenai hari ini. Seolah telah mengetahui hakikatnya, mengetahui sempurna cara menghadapi rasa takut yang djumpai. Sekiranya engkau mengetahui secara sempurna hakikatnya, tentu engkau menjadi orang yang sangat taat dan kembali kepada Tuhanmu sebagai orang yang bertaubat, bermohon ampunan, mencari maaf dari perbuatan yang telah engkau lakukan.
Jumhur berpendapat pengulangan ayat ke-17 di ayat ayat ke-18 sebagai bentuk pengagungan hari tersebut. Sedangkan versi Al-Juba’i untuk memaidahkan pembaharuan. pertama ditujukan bagi penghuni neraka, sedangkan kedua ditujukan bagi penghuni surga.
Ayat ke-19 merupakan penetapan bagi peristiwa yang sangat menakutkan dan pengagungan urusannya secara keseluruhan ( Al-Baidhawi, III t.t.: 177 ). Maksudnya, seorang pun tidak kuasa memberi manfaat terhadap yang lain, tidak pula dapat menyelamatkan dari segala yang menimpa orang lain, kecuali dengan izin Allah bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya. Sesuatu yang bernilai pada hari itu adalah iman dan amal keshalihan. Nabi saw. pernah berseru kepada kaum kerabatnya, “Wahai Bani Hasyim! Selamatkanlah diri kalian dari Neraka! Sebab aku tidak memiliki kekuasaan sedikitpun untuk menyelamatklan kalian dari siksa Allah!” beberapa ayat senada dengan ayat 19 mengungkapkan kekuasaan mutlak Allah pada hari itu.
لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
Terjemahannya: “(Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahka.” ( Q.S. Al- Mu’mun: 16 )
الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ
Terjemahannya: “Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah.” ( Q.S. Al-Furqan: 26 ).
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Terjemahannya: “Yang menguasai di Hari Pembalasan.” ( Q.S. Al-Fatihah: 4 ).
Imam As-Sa’adi ( 1431 H : 1080 ) dalam menutup komentar terhadap surat ini mengutarkan, maka Dia Yang memberi putusan diantara hamba-hamba-Nya. Dia mengambil bagi yang dizhalimi haknya dari yang menzhaliminya.