TAFSIR SURAT AL-TAKWIR
Disusun Oleh: Aki Pinanggih
Surat Al-Takwir termasuk diantara kelompok Surat Makiyah, terdiri atas dua puluh sembilan ayat dan diturunkan setelah Surat Al-Masad. Korelasi dengan surat sebelumnya (‘Abasa) dalam pemahaman Al-Maraghi,[1] masing-masing dari keduanya memberikan penjelasan kondisi-kondisi hari kiamat dan teror-terornya.Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Al-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang diterima melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membuka rahasia penglihatan hari kiamat seolah-olah dengan penglihatan matanya hendaknya ia membaca: “Idzasy syamsu kuwwirot”, “Idzas sama’unfathorot” dan “Idzas sama’unng syaqqot”.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (1) وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ (2) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (3) وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (4) وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (5) وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6) وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ (7) وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9) وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ (10) وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (11) وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ (12) وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (13) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ (14)
Terjemahannya:“Apabila matahari digulung,(1) dan apabila bintang-bintang berjatuhan,(2) dan apabila gunung-gunung dihancurkan,(3) dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan)(4) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,(5) dan apabila lautan dijadikan meluap(6) dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh) (7) dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,(8) karena dosa apakah dia dibunuh,(9) dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka,(10) dan apabila langit dilenyapkan,(11) dan apabila neraka Jahim dinyalakan,(12) dan apabila syurga didekatkan,(13) maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.(14)
Al-Khazin[2] mengutip pendapat Ibnu Abas dalam menafsirkan ayat ke-1 bahwa pada hari kiamat matahari dijadikan gelap-gulita. Menurut satu pendapat matahari dilenyapkan. Pendapat yang lain mengungkapkan matahari digulung sebagaimana sorban digulung. Pokok lafazh at-takwir menghimpun sebagian sesuatu kepada sebagian yang lain, kemudian digulung dan ketika itu dilakukan pada matahari menjadi hilang cahayanya. Masih menurut pendapat Ibnu Abas kelak Allah Ta’ala akan menggulung matahari, bulan dan bintang-bintang pada hari kiamat ke dalam laut, kemudian dihembuskan angin barat bergerak dengan kencang dan berubah menjadi api.
Dalam pandangan Ar-Razi[3],“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” pokok pada lafazh “al-inkidar”, “berjatuhan” bermakna “al-inshibab”, “menjadi tumpah”. Al-Kalbi mempersefsi pada hari itu bintang-bintang dijatuhkan dari langit dan tidak ada yang tersisa kecuali menimpa diatas permukaan bumi. ‘Atha menuturkan, yang demikian itu terjadi karena bintang-bintang berfungsi sebagai lentera yang digantungkan antara langit dan bumi rantainya dari cahaya. Sedangkan cahaya tersebut dipegang oleh Malaikat. Ketika mati apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi maka berjatuhan rantai itu dari tangan malaikat.
Selain itu, Allah mengungkapkan peristiwa kiamat diinformasikan pada ayat ke-3 dengan “dan apabila gunung-gunung dihancurkan,” maksudnya apabila gunung-gunung dicabut dari bumi dan dihancurkan di udara ketika bumi diguncangkan dengan guncangan yang maha dahsyat, maka gunung menjadi berkeping-keping partikel-partikel yang membentuknya dan terlempar sekian banyak pepohonannya. Gunung menjadi berjalan diatas kepala seperti awan yang berarak.
Lafazh al-‘isyar pada ayat ke-4, diteliksik Imam Abu Su’ud,[4] merupakan bentuk jamak (plural) dari ‘usyara’ yaitu unta bunting yang memasuki usia 10 bulan kandungannya. Penamaan demikian karena melahirkan anaknya pada usia kandungan sempurna satu tahun. Penyebutan unta bunting pada ayat ini merupakan primadona harta berharga yang dimiliki seseorang di kalangan Bangsa Arab pada waktu itu. Dan ketika terjadi hari kiamat dibiarkan terlepas begitu saja karena si empunya konsen memperhatikan dirinya sendiri.
Yang dimaksud binatang liar pada ayat ke-5 adalah segala hewan liar yang hidup di darat. Dalam pandangan Ibn Al-Syaikh Al-Shahari dan Al-Qafar seluruh binatang liar berkumpul karena secara instingtif merasakan ketakutan yang hebat pada hari kiamat. Satu pendapat yang lain mengomentari dibangkitkan hewan-hewan liar untuk menuntut balas (qishash) agar rasa keadilan berpihak kepada mereka ditegakkan. Menurut Qatadah akan dikumpulkan seluruh hewan liar sehingga lalat pun menuntut qishash kepada Allah, ketika telah diberi putusan diantara mereka, Allah mengembalikannya menjadi tanah dan tidak ada yang tersisa darinya kecuali kejadian tersebut menggembirakan Anak Adam dan membuat kagum dengan rupanya seperti Burung Merak, Bulbul dan yang seumpamanya. Jika seluruh hewan saja dibangkitkan dan diperkenankan menuntut qishsash sebagai bentuk keadilan, bagaimanakah segala bentuk kezhaliman yang dilakukan seseorang kepada yang lain? Tentu tidak akan bersembunyi dari pengadilan di hari itu!
Kemudian Allah menyingkap rentetan peristiwa dahsyat kiamat, “dan apabila lautan dijadikan meluap,” (6) maksudnya guncangan dahsyat memancarkan yang ada diantaranya sehingga lautan bercampur dan kembali menjadi satu, sebagaimana difirmankan:[5]
وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3)
Terjemahannya: “dan apabila lautan menjadikan meluap,”
Ada yang mempersefsi luapan lautan tersebut berubah bentuk menjadi lautan nyala api karena yang terkandung dalam perut bumi adalah api yang ditampakkan dengan cara dibelah dan dirobek lapisan-lapisannya sehingga sampai kepada inti bumi. Maka pada peristiwa itu air laut dalam keadaan menguap. Tidak ada yang tersisa kecuali api![6]
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
Terjemahannya: “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)” (7)
Muhamad Al-jauzi[7]menghimpun beberapa pendapat mengenai maksud-maksud ayat ini. Menurut Al-Hasan dan Qatadah setiap jiwa disandingkan dengan yang menyerupainya sebagaimana yang diungkapka Ibnu Umar, “Orang yang shalih bersama orang yang shalih di Surga dan pendurhaka bersama pendurhaka di Neraka.” Menurut pendapat Al-Sya’bi dan Ikrimah pada hari itu seuruh ruh dikembaikan kepada jasadanya. Dalam pemahaman ‘Atha dan Muqatil setiap orang yang beriman disandingkan dengan bidadari surga sedangkan setiap orang yang kafir disandingkan dengan Setan.
Kemudian Allah menyampaikan kalimat retoris atas perdosaan besar yang dilakukan pada waktu ayat ini diturunkan:
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9)
Terjemahannya: “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,” (8) karena dosa apakah dia dibunuh, (9).
Motif penguburan bayi perempuan dalam keadaan hidup-hidup dalam sistem budaya jahiliyah karena takut ‘aib menimpa mereka sehubungan perempuan tidak bisa maju ke medan perang antar-suku, sedangkan pendapat yang lain karena takut kelaparan. Pengungkapan gaya bahasa bertanya pada ayat ke-9 merupakan cara agar orang yang diajak bicara menangisi perbuatan yang telah dilakukan sekaligus mengandung teguran yang sangat keras. Secara kontekstual pencercaan yang dikandung ayat ini berlaku dari masa ke masa, dari “Jahiliyah Kuno” hingga “Jahiliyah Moderen”. Apa gerangan yang mendorong pembunuhan terhadap bayi padahal bersih dari perdosaan yang dilakukannya? Dalam persefsi Imam As-Sa’adi[8] ayat ini mengandung pencercaan sekaligus dampratan yang sangat keras bagi si pelakunya!
Al-Quran dalam beberapa ayat menceritakan fakta yang diperbuat kaum jahiliyah berkenaan pembunuhan terhadap bayi-bayi perempuan seperti dalam firman-Nya:[9]
وَإِذا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ. يَتَوارى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ ما بُشِّرَ بِهِ، أَيُمْسِكُهُ عَلى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرابِ، أَلا ساءَ ما يَحْكُمُونَ.
Terjemahannya: “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”
Penguburan bayi dalam keadaan hidup-hidup ternyata tidak dilakukan oleh semua kabilah. Umpamanya di kalangan Kabilah Quraisy tidak tercatat ada perbuatan tersebut. Hanyasaja secara kasuistis dilakukan oleh Kabilah Rubay’ah, Kindih dan Tamim. Sikap diam semua kabilah seolah memberi persetujuan atas tindakan itu menjadi justifikasi pembenaran di masa jahiliyah.
Maksud ayat ke-10, dan apabila catatan-catatan amal ditampakkan dihadapan pelakunya di tempat hisaban sehingga tidak ada keraguan padanya. Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:[10]
وَكُلَّ إِنسانٍ أَلْزَمْناهُ طائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ كِتاباً يَلْقاهُ مَنْشُوراً. اقْرَأْ كِتابَكَ كَفى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيباً
Terjemahannya: “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.”Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.
Kita tidak dituntut untuk mencari tahu mengenai catatan amal perbuatan ini apakah ia semisal helaian kertas sebagaimana dipakai untuk menulis ketika di dunia atau seumpama papan tulis atau sebangsa lainnya yang lazim dipakai tulis-menulis. Pengetahuan kita tidak akan sampai kepada semua itu karena tidak ada redaksi yang qath’iy dari orang yang dipelihara dari dosa yaitu Muhamad saw. selaku pemilik otoritas menafsirkannya.[11]
Tafsiran ayat ke-11 menurut Ash-Shabuni[12] langit dihilangkan dan dicabut dari tempatnya sebagaimana kulit dicabut dari tubuh seekor domba. Maksud dinyalakan Neraka jahim kemudian menjadi panas pada ayat ke-12, Qatadah memahami yang membuat menyala Neraka Jahim karena kemarahan Allah dan dosa-dosa Anak Adam. Adapun maksud ayat ke-13 Surga didekatkan bagi orang-orang yang bertakwa Senada dengan firman-Nya:[13]
كقوله تعالى وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ
Terjemahannya: “Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).”
Di dalam Kitab Tafsir Ruh Al-Bayan, Ismail Haqi[14] memahami bahwa surga didekatkan kepada mukminin secara maknawi, yakni dijadikan sebagai penghuni yang patut memasukinya dengan penuh kemuliaan. Ayat ini mengandung isyarat didekatkan berbagai kenikmatan buah jejak-jejak kerelaan dan kehalusan dari muttaqin. Surga sampai dan disampaikan karena kecintaan nan indah dan kesempurnaan.
‘Abd bin Humaid dan Ibn Al-Mundzir telah meriwayatkan melalui Abu Al-‘Aliyah mengomentari enam ayat secara fenomenalogis akan terjadi di dunia dan manusia menyaksikannya yaitu “Idzasy syamsu kuwwirot” sampai “wa idzal bihharu sujjirot”. Adapun enam ayat akan teradi di akhirat, yaitu “Wa idzan nufusu zuwwijat” sampai dengan “Wa idzal jannatu uzlifat”.[15]
Didalam surat ini lafazh “idza”, “ketika” diulang sebanyak duabelas kali, sedangkan jawab syarathnya terdapat pada firman Allah: “ ‘Alimat nafsum ma ahdlorot”,” maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” Perulangan lafzah “Idza”, difahami Sayyid Thanthawi[16], bertujuan membuat tertarik mencari jawabannya. Rekanan bicara ketika mendapati keterangan waktu ini (zharaf) secara berulang-ulang dibuat terbuai ada dalam penantian dan kerinduan untuk mengetahui jawabannya.
Firman-Nya: “’Alimat nafsum ma qoddamat wa ahdhorot”, “maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” Maksudnya apabila terjadi berbagai urusan tersebut, setiap jiwa akan mengetahui segala yang telah dikerjakan sebagaimana firman-Nya:[17]
{يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا}
Terjemahannya: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.”Firman-Nya:
Dan firman-Nya:[18]
يُنَبَّأُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ .
Terjemahannya: “Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.”
Kemudian Allah bersumpah untuk menetapkan kebenaran wahyu Al-Quran dan Kenabian Rasul Muhamad saw.:
فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ (15) الْجَوَارِ الْكُنَّسِ (16)
Terjemahannya: “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,” (15) yang beredar dan terbenam, (16) .
Maksudnya Allah bersumpah dengan semua bintang-bintang yang menutupi waktu siang dibawah sinar matahari, beredar pada porosnya bersamaan waktu malam yang tampak pada posisinya sebagaimana tampak seekor kijang keluar dari kandangnya berfungsi menguatkan informasi, menilik fakta apa adanya tidak membutuhkan sumpah. Hanyasaja Allah Swt. bersumpah untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. kekuasaan memodelkan dan mengendalikan alam raya ini.
وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (17) وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ (18)
Terjemahannya: “demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, (17) dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (18).
Makna “ ‘as’as” apabila malam hampir berlalu gelap gulitanya. Abu Zhabyan menceritakan bahwa ia pernah mengikuti Ali bin Abi Thalib ra. keluar dari arah timur lalu menghadap fajar dan membacakan ayat ini: “Wal laili idza ‘as’as”, ““demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya,”.Makna “tanaffas” apabila subuh hampir berlalu dan membias cahaya yang bersinar di ufuq.
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)
Terjemahannya: “sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), (19) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, (20) yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (21)
Wahbah Zuhaili[19] menjelaskan, sesungguhnya Al-Quran ini penyampaian dan penukilannya melalui perutusan yang mulia di sisi Allah yaitu Jibril A.S. yang memiliki empat sifat: pertama, sangat kuat dalam kesempurnaan penghafalan. Kedua, menyampaikan informasi yang lengkap. Ketiga, pemilik kedudukan yang tinggi disisi Allah Swt. Keempat, ditaati diantara para malaikat dalam artian diterima perkataannya, dibenarkan apa yang diucapkannya dan dipercaya wahyu yang disampaikannya dan dilaksanakan segala perintah-Nya.
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ (22) وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (23) وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (24) وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ (25) فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ (26) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (27) لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (28) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29)
Terjemahannya: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. (22) Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. (23) Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. (24) Dan Al Qur’aan itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, (25) maka ke manakah kamu akan pergi? (26) Al Qur’aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (27) (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.(28) Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (29)
Allah berfirman kepada Warga Mekah bahwa Muhamad itu bukanlah orang gila yang diperbincangkan diantara mereka dan bukan pula seseorang yang berbicara tidak karuan seumpama keraksukan bangsa jin, tetapi:[20]
بَلْ جاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ
Terjemahannya: “Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).”
Kajian keindahan bahasa yang dikandung ayat ke-22 dalam teliksik Al-Baghawi[21], mengisyaratkan juga jawaban terhadap sumpah ( jawab al-qasam ) penguatan Al-Quran diturunkan Jibril, sedangkan Muhamad saw. bukan sebagaimana yang diperbincangkan Warga Mekah yang telah dianggap gila, sekali-kali ia tidak berucap mengucapkan Al-Quran yang bersumber dari dirinya. ini merupakan peniadaan terhadap sesuatu yang nyata-nyata musuh-musuh Muhamad saw. mendustakan keadaan beliau karena bermotif kedengkian dan penistaan![22]
Peredaksian firman-Nya: “Shohibukum”, “temanmu” mengisyaratkan bahwa secara empirik alur hidup Muhamad saw. dari awal membawa urusan kenabian-Nya sampai sekarang, kalian lebih mengenalnya sebagai makhluk yang paling sempurna akalnya, paling kuat kecerdasannya dan paling jernih daya pikirnya daripada kalian. Karena itu tidak patut disandarkan baginya sebagai orang gila, kecuali orang yang mengatakannya berhimpun kedunguan dan kegilaan!!!
Maksud ayat ke-23 menetapkan kebenaran Muhamad saw. melihat Jibril a.s. di ufuk yang sangat tinggi dari arah sebelah timur, jelas apa yang dilihatnya. Dalam pandangna Ibn katsir penglihatan Muhamad terhadap Jibril secara nyata, wallohu’alam. Sesungguhnya surat ini diturunkan sebelum peristiwa Malam Isra Mi’raj, tidak pernah disebutkan berbagai pertemuan denga Jibril dalam rupa yang asli kecuali ini peristiwa yang pertama. Sedangkan peristiwa yang kedua ketika beliau Isra Mi’raj berada di Sidratul Muntaha. Firman-Nya:[23]
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرى عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهى عِنْدَها جَنَّةُ الْمَأْوى
Terjemahannya: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (13) (yaitu) di Sidratil Muntaha (14) Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (15).
Al-Thabari[24] menyampaikan riwayat bahwa Jibril yang dilihat oleh Nabi saw. mempunyai enam ratus sayap. Ketika “penampakannya” itu keadaan ufuk terhalang semuanya.
Mengenai ayat ke-24 Al-Khazin[25] berkomentar, Muhamad saw. tidaklah kikir dari menginformasikan keghaiban seperti wahyu, pemberitaan dari langit, dan segala yang ghaib dari pengetahuannya mengenai kisah-kisah dan kisah-kisah para nabi sebelumnya. Sekali-kali beliau tidak akan menyembunyikan semua itu sebagaimana seorang dukun atau tukang ramal (al-kahin) tidak akan menyembunyikan sesuatu yang ada di sisinya sehingga ia mengambil upah perdukunannya !
Ayat ke-25 meyampaikan penegasan, Al-Qur’an yang mulia ini, diturunkan atas jungjunan kita Muhamad saw., bukan perkataan setan yang dirajam. Mereka dilemahkan untuk mendengarkannya. Hanyasaja Al-Qur’an itu Kalamullah, kebathilan tidak akan mendatangi dari belakang dan dari hadapannya. Kandungan ayat ini, dalam pemahaman Imam Thanthawi ( XV, 1998 M : 305 ) mengisyaratkan penolakan juga atas orang-orang musyrik yang beranggapan Al-Qur’an yang mulia diantara satu pintu perdukunan, sedangkan Rasul saw. hanya seorang dukun yang menerima pendiktean Al-Qur’an dari para setan.
Nada pertanyaan pada ayat ke-26 “menyentil” penyimpangan dari jalan yang seharusnya ditempuh mereka (al-istidhlal atau quo vadis). Dikatakan bagi orang yang meninggalkan jalan besar dalam keadaan gelap-gulita, : “Kemana engkau gerangan hendak pergi?” Penganalogian mereka seperti orang yang meninggalkan kebenaran dan memusuhinya kemudian beralih kepada yang bathil.
Ayat ke-27 s.d. 29 dikomentari Imam Al-Qurthubi,[26] Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah memberikan nasihat dan larangan bagi semesta alam, yaitu bagi orang yang mengikuti kebenaran ( haq ) dan menetapinya. Abu Hurairah dan Sulaiman bin Musa berkata: “Ketika turun ayat “limang sya’a mingkum ay yastaqim”, “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” Abu Jahal berkata: “Semua urusan bagaimana menurut kami. Jika kami menghendaki jalan lurus, maka ia menjadi lurus. Dan jika kami menghendaki tidak lurus, , maka ia tidak boleh menjadi jalan lurus!” Maka Allah menurunkan ayat: “Wa ma tasya’una illa ay yasya’allohu robbul’alamin”, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Dengan ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa seorang hamba tidak mengamalkan kebaikan kecuali disertai taufiq dari Allah. Dan tidak pula mengerjakan kejelekan kecuali dibiarkan oleh Allah tidak diberi pertolongan. Al-Hasan berkata: “Demi Allah, Tidaklah Bangsa Arab menghendaki Islam sehingga Allah menghendakinya bagi mereka!”
[1] Ahmad bin Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Dar Al-Fikr, Beirut: 2001 M, jld. X, hlm. 259.
[2] ‘Ala’ Al-Din ‘Ali bin Muhamad bin Ibrahim bin ‘Umar Al-Syaihi Abu Al-Hasan Al-Khazin, Lubab Al-Ta’wil Fi Ma’ani Al-Tanzil, Dar Al-Al-Kutub Al-‘Ilmiyat, Beirut: 1415 H, jld. IV, hlm. 397.
[3] Abu ‘Abd Allah Muhamad bin ‘Umar bin Al-Hasan bin Al-Husain Al-Taimi Al-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Dar Ihya’u Al-Turats Al-‘Arabi, Beirut: 1420 H, jld. XXXI, hlm. 64.
[4] Abu Su’ud Al-‘Imadi Muhamad bin Muhamad bin Mushthafa, Irsyad Al-‘Aql Al-Salim Ila mazaya Al-Kitab Al-Karim, Dar Al-Fikr, Beirut: t.t.., jld. V, hlm.837.
[5] Q.S. Al-Infithar: 3.
[6] Ahmad bin Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Dar Al-Fikr, Beirut: 2001, jld. X , hlm. 260.
[7] Jamal Al-Din Abu Al-Farj ‘Abd Al-Rahman bin ‘Ali bin Muhamad Al-Jauzi,Ibnu Al-Jauzi, Zad Al-Masir Fi ‘Ilm Al-Tafsir, Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, Beirut: 1422 H, jld. IV, hlm. 406.
[8] ‘Abd Al-Rahman bin Nashir Al-Sa’adi, Taisir Al-Karim Al-Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Manan, Dar Ibn jauzi, Al-Mamlakat Al-‘Arabiyat Al-Su’udiyat: 1431 H, hlm. 1078.
[9] Q.S. Al-Nahl: 58 – 59.
[10] Q.S. Al-Isra: 13 -14.
[11] Ahmad bin Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Dar Al-Fikr, Beirut: 2001, jld. X, Hlm. 261.
[12] Muhamad ‘Ali Ash-Shabuni,Shafwat Al-Tafasir, Dar Al-Fikr, Beirut: 2001, jld.III, hlm. 499.
[13] Q.S. Qaf: 31.
[14] Isma’il Haqi Al-Burusawi, Tafsir Ruh Al-Bayan, Dar Al-Fikr, Beirut: 2006, jld. X , hlm. 402.
[15] Syihab Al-Din Al-Sayid Mahmud Al-Alusi Al-baghdadi, Ruh Al-Ma’ani Fi Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim Wa Al-Sab’ Al-Matsani, Dar Al-Fikr, Beirut: t.t., jld. XVI, hlm. 98 .
[16] Muhamad Sayid Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, Dar Al-Nahdhat, Kairo: 1998, jld. XVI, hlm. 296.
[17] Q.S. Ali ‘Imran: 30.
[18] Q.S. Al-Qiyamah: 13.
[19] Wahbat bin Mushthafa Al-Zuhaili, Al-Tafsir Al-Wasith Li Al-Zuhaili, Dar Al-Fikr, Damaskus: 1422 H, jld. III, hlm. 2832.
[20] Q.S. Al-Shaffat: 37.
[21] Abu Muhamad Al-Husain bin Mas’ud bin Muhamad bin Al-Fara’ Al- Baghawi, Ma’alim Al-Tanzil Fi Tafsir Al-Qur’an, Dar Ihya’ Al-Turats Al-‘Arabi, Beirut: 1420 H, jld. V, hlm. 2313.
[22] Muhamad jamal Al-Din bin Muhamad Sa’id bin Qasim Al-Halaqi Al-Qasimi, Mahasin Al-Ta’wil, Dar Al-Kitab Al-‘Ilmiyat, Beirut: 1418 H, jld. IX, hlm. 419.
[23] Q.S. Al-Najm: 13 – 15.
[24] Muhamad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Al-Amili Abu Ja’far Al-Thabari, Jami’ Al-Bayan Fi Ta’wil Al-Qur’an, Muassasat Al-Risalat: 2000, Jld. XXIV, hlm. 260 .
[25] ‘Ala’ Al-Din ‘Ali bin Muhamad bin Ibrahim bin ‘Umar Al-Syaihi Abu Al-Hasan Al-Khazin, Lubab Al-Ta’wil Fi Ma’ani Al-Tanzil, Dar Al-Al-Kutub Al-‘Ilmiyat, Beirut: 1415 H, jld.IV, hlm. 399.
[26] Abu ‘Abd Allah Muhamad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh Al-Anshari Al-Khajraji Syams Al-Din Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, Dar Al-Kitab Al-Mishriyat, Kairo: 1964, jld. XIX, 243hlm.